KABAR DARI TANAH TINGGI AMBAIDIRU-KEPULAUAN YAPEN

KABAR DARI TANAH TINGGI AMBAIDIRU-KEPULAUAN YAPEN Menara Kasih di Kota Serui. Foto: Husni Munir
  • Bagikan

Word: Ayu Arman

Akhirnya kaki saya menginjakkan di tanah Serui-Kepulauan Yapen-Provinsi Papua. Nama Serui tidak asing di telinga saya. Di setiap perjalanan ke Papua, saya sering menjumpai manusia Papua dengan wajah yang khas dari tanah ini. Berkulit terang, berambut ikal dan lurus, berhidung kecil lancip dan bermata agak sipit dengan bulu mata yang lentik.

Mereka adalah generasi blasteran yang mewarisi perpaduan genetika ras mongoloid dan ras melanesia. Orang-orang menyebutnya dengan istilah “Perancis” yang merupakan akronim Peranakan Cina Serui. Mereka adalah hasil keturunan dari perkawinan campuran Papua dan Cina, yang menambah corak wajah manusia Papua yang tak lagi hanya digambarkan dalam lirik lagu yang diciptakan Franky Sahilatua: “ Hitam kulitku, keriting rambutku. Tapi juga coklat, putih kulitku dan lurus rambutku.”

Saya berpose dengan salah satu anak keturunan Cina-Serui

Wajah keturunan Cina Serui bukan hanya menambah rupa wajah manusia Papua. Orang-orang Serui juga terkenal dengan kecakapan intelektualnya. Itu terbukti banyak orang Serui- kepulauan Yapen menduduki jabatan penting di negeri ini. Salah satunya adalah Laksamana Madya (Purn.) Freddy Numberi, tokoh militer yang pernah menjabat sebagai Gubernur Papua dan juga Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara pada masa dan Menteri Kelautan dan Perikanan Indonesia . Ada juga Brigadir Jenderal Marinir Abraham Octavianus yang merupakan gubernur Papua Barat pertama, Yorrys Raweyai, politikus Indonesia. Dan banyak lagi orang-orang Serui yang sukses di negeri ini.

Terlintas sebuah tanya dalam pikiran saya. Seperti apakah masyarakat Serui-Kepulauan Yapen ini dibentuk sehingga mereka berbeda dari gambaran Papua lain yang pernah saya lihat?

Dan puji Tuhan, pada akhir bulan Juli 2022 semesta membawa kaki saya menginjakkan di tanah Serui-Kepulauan Yapen-Provinsi Papua ini. Sebuah kabupaten yang terletak di Teluk Cendrawasih dengan visualisasi gugusan pulau dengan garis pantai memanjang yang diapit Selat Sorenarwa dan Saireri. Sungai-sungainya berkelok di antara rimba raya, perbukitan, dan pegunungan. Hutan Kepulauan Yapen bahkan menjadi salah satu kawasan cagar alam di Provinsi Papua.

Teluk Manabay. Foto: Ruben Sombolayuk.

Secara administratif, Kepulauan Yapen ini memiliki kawasan perairan (4.713,16 km2); dua kali lebih luas dari daratannya (2.432,49 km2). Ibu kotanya, yakni Serui, sudah dikenal sebagai kota pendidikan sejak zaman Belanda karena pada masa itu sudah berdiri sekolah berasrama dari tingkat dasar hingga menengah Bahkan, Serui pernah menjadi basis perjuangan pengembalian Irian Barat ke pangkuan Indonesia. Ada banyak pejuang yang lahir dari kota ini. Sebut saja Silas Papare, Berotabui, Stevanus Rumbewas, Hermanus Wayoi, dan tokoh muda lainnya yang merintis kebangkitan nasionalisme Indonesia

Saya bersyukur kedatangan saya ke Kabupaten Kepulauan Yapen ini telah terang dan memiliki akses jalan darat yang sangat baik sehingga saya bisa melintasi kampung-kampung dan distrik-distrik. Salah satu perkampungan yang saya kunjungi adalah kampung Ambaidiru yang berada di Pegunungan Muman, dengan ketinggian antara 800-1.000 mdpl.

Salah satu ruas jalan trans Yapen menuju puncak Ambaidiru. Foto: Ruben Sambolayuk.

Semenjak jalan darat trans lingkar Yapen terbangun dan menghubungkan semua distrik dan kampung dengan baik, di kampung Ambaidiru kini menjadi salah satu spot wisata bagi masyarakat Yapen atau luar Yapen, terkhusus bagi mereka penyuka kopi.

Kampung Ambaidiru. Foto: Husni Munir

Di ketinggian bukit Kampung Ambaidiru Puncak Mamara ini terdapat rumah kopi. Sebuah kedai untuk menikmati kopi hasil produksi masyarakat di sekitar pegunungan Muman dan juga menikmati pemandangan alam pegunungan Yapen.

Rumah kedai kopi Ambaidiru. Foto: Husni Munir.

Kopi Ambaidiru merupakan kopi dari pohon yang ditanam sejak era Belanda. Rata-rata pohon kopi hanya bertahan selama 25 tahun. Namun, pohon-pohon kopi yang ditanam di Ambaidiru yang berlokasi di hutan Kakupi, Paputum, dan Kituntu masih berdiri dan berbuah. Juga pada kampung Mainin, Ramangkurani, dan Numaman.

Bentuk pohon kopi di daerah Ambaidiru ini juga tergolong unik. Batang pohon kopinya tumbuh meliuk-liuk layaknya bonsai setinggi 1,5 meter berdiri bersama dengan pepohonan hutan sehingga kawasan ini berperan sebagai penyangga Cagar Alam Yapen Tengah. Lokasi rumah Kopi Ambaidiru dan perkebunan kopi ini berjarak sekitar 30 kilometer dari kota Serui, dan kini bisa ditempuh hanya satu jam dari kota Serui.

Saya mendengar kisah-kisah bahagia dari masyarakat perkampungan selama perjalanan darat menuju rumah kopi di bukit Mamara kampung Ambaidiru ini.

“Sekarang sudah ada jalan, Bu. Kemana-mana sudah tidak susah lagi. Saya juga sekarang sudah bisa naik motor. Dan itu sangat meringankan Bapak,” ucap Bapak Markus Masini dari kampung Mambo Pegunungan Ambaidiru saat saya jumpai di tengah perjalanan menuju puncak Ambaidiru.

Saya bersama bapak Markus Masini dan Bupati Tonny Tesar saat perjalanan menuju rumah kopi Ambaidiru

“Kami berterima kasih kepada Bapak Bupati Tonny Tesar karena sudah kasih kami jalan baik.”.

“Dulu kampung bapak ini, bagaimana?” tanya saya.

“Waduh, Bu. Dulu daerah ini gelap. Ke mana-mana haris berjalan kaki. Kalau bapak ke kebun untuk mengambil kebutuhan makanan, bapak harus masuk hutan dan mendaki bukit seharian dengan menggendong hasil kebun sampai pundak bapak benjol begini. Apalagi kalau ke kota Serui, itu bisa ditempuh berhari-hari, Bu,” ucap bapak warga sembari menunjukkan benjolan besar pada kedua area pundaknya.

Bapak Markus menunjukkan benjolan di pundak kanannya, bekas memikul barang barang berat sebelum ada jalan.

“Banyak lelaki di sini yang punya benjolan begini. Kalau Mama-mama di kepalanya pasti ada keratan tali karena dia menarik token dengan kepalanya. Tapi, sekarang bapak sudah tidak memikul lagi. Sekarang ada motor. Dan hasil-hasil kebun kami juga sekarang bisa langsung dibawa ke pasar Serui. Berangkat pagi dengan bus dan sore sudah tiba di rumah. Dan satu lagi, kampung kami sekarang ramai. Banyak orang berkunjung ke sini. ”

Saya merasakan rona bahagia Bapak Markus dan warga lain saya temui di kampung Ambaidiru itu. Bagi mereka, orang-orang yang hidup di wilayah pedalaman, yang hidupnya bertahun-tahun tertutup oleh dinding tebal tembok gunung dan dipisahkan oleh bentangan lautan, keberadaan jalan itu seperti memiliki napas. Mereka akhirnya bisa bergerak ke mana saja dengan mudah.

Saya sebenarnya sering mendengar pernyataan sedikit sinis seperti ini: “Pembangunan infrastruktur jalan Papua ini untuk siapa?” Dari perjalanan saya memasuki beberapa daerah pedalaman di Papua Barat dan Papua, dan menyaksikan langsung kehidupan masyarakat pedalaman secara dekat, saya berani menjawab bahwa pembangunan jalan itu sangat meringankan hidup masyarakat pendalaman dan mengubah kehidupan mereka lebih baik.

Pernahkah kita membayangkan dan merasakan penderitaan masyarakat pedalaman? Bagaimana cerita bapak Markus memikul dan mama menggendong hasil kebun mereka jalan kaki berkilo-kilo, masuk hutan dan naik turun bukit? Bagaimana mama-mama mengantar anak-anak ke sekolah dengan jalan kaki berkilo-kilo? Bagaimana cerita orang sakit ditandu dengan berjalan kaki, bahan material mahal karena harus diangkut helikopter, mobil hanyut oleh arus sungai? dan lainnya. Oleh karena itu, terbukanya infrastruktur jalan pada sebuah daerah pedalaman adalah membuka napas kehidupan masyarakat di dalamnya.

Gambaran itu yang saya rasakan ketika mengunjungi Kabupaten Kepulauan Yapen-Provinsi Papua pada dua pekan lalu, 25 Juli 2022. Saya bersyukur bisa langsung berbincang dengan Bapak Tonny Tesar, Bupati Kepulauan Yapen sehingga saya bisa menyimak perjalanan pembangunan daerah ini.

Bapak Tonny Tesar, Bupati Kabupaten Kepulauan Yapen dua periode, 2012-2022 dan produk kopi Ambaidiru di atas meja kami.

“Dulu, orang-orang menyebut daerah kami ini dengan sebutan “Kota 3 kilometer”. Karena semenjak berdirinya Kabupaten Kepulauan Yapen pada tahun 1969 hingga tahun 2010 ini pembangunannya stagnan. Pembangunannya sepotong-potong. Pembangunan jalannya hanya di sekitar area kota saja. Akses jalan darat menuju distrik-distrik, kampung-kampung hampir 90 persen masih tertutup. Satu-satunya jalan saat itu hanya bisa ditempuh lewat laut. Dan itu membutuhkan biaya transportasi yang mahal. Tidak semua masyarakat memiliki armada perahu atau speed dan membeli BBM. Bila waktu musim angin tiba, perjalanan laut itu berisiko tinggi karena gulungan ombak laut kepulauan Yapen seringkali memakan korban.

Dan puji syukur, selama memimpi satu dekade, sebuah perubahan tengah hadir di Kabupaten Kepulauan Yapen ini. Kita bisa melihat bagaimana mulanya Kepulauan Yapen sebagai daerah yang terisolasi dan gelap itu kini Puluhan dermaga, jembatan, dan jalan darat trans lingkar Yapen yang menghubungkan semua yang berjarak: jarak distrik, jarak kampung telah terhubung dengan baik.

Pasar Aroro-Iroro-Serui diramaikan oleh hasil kebun masyarakat Kepulauan Yapen. Foto: Husni Munir.

Sekarang, gerak aktivitas masyarakat Kepulauan Yapen kini lebih mudah, cepat, dan murah. Masyarakat bisa bepergian kapan saja, siang atau malam, tidak ada lagi kesulitan. Pertumbuhan ekonomi masyarakat pun mulai menggeliat. Masyarakat bisa membawa hasil tanamannya ke pasar kota Serui kapan saja, siang dan malam. Pelayanan kesehatan bisa mereka akses kapanpun,” ucap Bapak Tonny Tesar mengisahkan sedikit perjalanan memimpin Kabupaten Kepulauan Yapen yang akan berakhir pada pertengahan Oktober 2022 di Bukit Ambaidiru beberapa minggu lalu.

Berkat pembangunan di era kepemimpinannya itu, saya pun akhirnya bisa berdiri tegak menghirup udara segar alam pegunungan Yapen ini. Terima kasih saya haturkan.